Pengalaman tinggal di 5 kota di Jerman

Selama 13 tahun tinggal di Jerman, saya pernah merasakan tinggal di 5 kota.
1. Darmstadt
Di kota inilah saya pertama kali merasakan tinggal di Jerman. Mengapa saya pilih Darmstadt? Sederhana saja alasannya; karena teman-teman kursus bahasa Jerman saat saya masih di Jakarta, semuanya pilih ke Darmstadt. Kebetulan universitas mereka di Jakarta punya kerja sama dengan universitas Darmstadt. Jadi untuk memudahkan pendaftaran kursus bahasa Jerman sebagai dasar saya mendapatkan visa ke Jerman, saya juga memutuskan untuk tinggal di Darmstadt.
Darmstadt salah satu kota yang cukup enak untuk student Indonesia yang pertama kali datang ke Jerman. Ada banyak orang Indonesia di Darmstadt, jadi kita tidak akan merasa hidup sendiri banget disana. Kotanya juga tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, dekat dengan Frankfurt, jadi kalau mau cari kerja di messe, lebih mudah.

2. Bernburg
Setelah diterima di Hochschule Anhalt, saya pindah ke Bernburg. Disinilah saya mengalami yang namanya culture shock. Bernburg berada di Jerman bagian timur. Kotanya sangat kecil, mungkin bisa dibilang desa. Kalau bukan karena ada Hochschule di Bernburg, mungkin kota ini seperti kota mati. Penduduknya kalau bukan orang tua, pasti students yang kuliah di Bernburg. Saya agak sedikit hiperbola; tapi itulah yang saya rasakan saat itu 
Tetapi disinilah pertama kalinya saya berteman bukan dengan orang Indonesia. Alasannya sederhana, karena saat itu saya orang Indonesia satu-satunya di kota Bernburg. Jadi situasi yang membuat saya terpaksa hanya berteman dengan orang asing. Awalnya agak susah, tetapi setelah beberapa jam, akhirnya saya terbiasa juga. Disinilah saya belajar masak yang sangat simpel, ala student Jerman. Disinilah saya hanya berbahasa asing, tidak menggunakan bahasa Indonesia sama sekali. Tetapi kondisi yang seperti ini yang membuat bahasa Inggris dan Jerman saya jadi berkembang karena tidak ada pilihan.

3. Konstanz
Setelah lulus dari Hochschule Anhalt, seperti artikel saya sebelumnya, saya diterima di Uni Konstanz. Kali ini saya tidak kena culture shock, tetapi terkagum2 dengan keindahan kota-kota di Jerman. Konstanz merupakan salah satu kota yang cantik karena Bodensee. Ada pepatah yang terkenal disana: „Studieren, wo andere Urlaub machen“. (Kuliah dimana orang-orang liburan). Disini saya bertemu lagi dengan banyak orang Indonesia. Tetapi karena pengalaman di Bernburg, saya membatasi pergaulan dengan orang Indonesia. Karena saya mau supaya Bahasa asing saya lebih berkembang. Dan juga berteman dengan orang Indonesia itu sangat nyaman; saking nyamannya, kita bisa lupa kegiatan yang lain loh. Dengan kenyataan Konstanz adalah kota liburan dan berbatasan langsung dengan Swiss, jadi biaya hidup di kota ini terbilang cukup mahal. Tetapi karena itu juga, tidak terlalu susah mencari kerja sambilan di Konstanz.

4. Wiesloch
Saya pindah ke kota Wiesloch karena saya dapat Praktikum diperusahaan tempat saya sekarang bekerja. Diwaktu yang sama, pacar saya juga dapat pekerjaan disana. Kami menikah dan akhirnya memutuskan tinggal di Wiesloch yang hanya 5 km dari kantor. Walaupun Wiesloch kota kecil, tetapi semua serba ada di Wiesloch. Toko cukup banyak, bank dan dokter juga banyak, restaurant juga beragam. Kalau bosan ke kota, kita biasanya jalan-jalan di kebun anggur sekalian piknik di saung di bukit yang paling atas. Disini kami banyak naik sepeda dan jalan kaki.
Karena jaraknya yang tidak jauh dari kantor, kami hamper tiap hari naik sepeda ke kantor. Sekalian ngirit, jadi kami juga berolah-raga. Di Wiesloch lah saya memulai hidup bukan lagi sebagai student, tetapi sebagai pekerja, istri, dan ibu rumah tangga. Disini lah saya mulai ikut kegiatan yang diadakan di kota, disinilah saya belajar ngumpul dengan tetangga saat anak saya main dengan anak tetangga. Kebetulan apartment tempat kami tinggal ada tempat bermain, jadi disini saya belajar istilahnya gantian jaga anak. Saya masih bisa masak saat anak saya main dengan anak tetangga.
Karena Wiesloch dekat dengan perusahaan tempat kami bekerja yang merupakan perusahaan internasional, banyak sekali orang asing yang tinggal di Wiesloch. Dan karena perusahaan kami punya nama yang sangat baik, orang Jerman sangat menerima kami.

5. Heidelberg
Heidelberg hanya 15 km saja dari Wiesloch, kali ini kami pindah tidak terlalu jauh. Tetapi karena kami mau menyekolahkan anak di Heidelberg nantinya, kami putuskan untuk pindah ke Heidelberg. Ini artinya perjalanan ke kantor yang tadinya hanya 5 menit kalau naik mobil, jadi 15 menit sekarang. Tetapi tidak apa-apa, demi anak.
Heidelberg salah satu kota yang indah di Jerman; salah satu favorit tempat wisatanya orang Asia. Kota Heidelberg 3,5 kali lebih besar daripada Wiesloch. Tempat tinggal jadinya lebih mahal. Karena itu, kami tidak tinggal di tengah kota dan kemana-mana jadinya bergantung dengan mobil. Sebenarnya bisa juga naik bus, tetapi dengan dua anak, agak repot juga naik bus.
Ada 4 uni/FH di Heidelberg, dan uni Heidelberg merupakan uni tertua di Jerman. Jadi tidak aneh lagi kalau banyak sekali student yang kuliah di Heidelberg. Jurusan yang sangat diminati di uni Heidelberg adalah kedokteran, theology, dan fisika & astronomi. Tentu masih ada jurusan lain yang segudang banyak nya, tetapi uni Heidelberg terkenal dengan 3 jurusan diatas. Di Heidelberg ada German Cancer Research Center, disinilah semua riset yang berkaitan dengan kanker dilakukan.
Orang-orang di Heidelberg, seperti layaknya kota besar lainnya, tidak seramah di kota yang lebih kecil. Berkenalan dengan tetangga juga tidak semudah waktu di Wiesloch. Tetapi bukan berarti mereka tidak mau terbuka, tetapi karena kesibukan masing-masing, kita harus saling mengerti dan menghargai. Mirip lah dengan hidup di kota besar di Indonesia, Cuma beda di bahasa saja.

Dengan pengalaman tinggal di 5 kota yang berbeda di Jerman membuat saya makin mengerti bagaimana tinggal dan bersosialisasi di Jerman. Ada suka dan dukanya tinggal di 5 kota tersebut. Status student, pekerja, dan ibu rumah tangga juga membedakan bagaimana saya hidup dan tinggal dikota tersebut. Semoga tidak ada (lagi) yang bertanya paling enak tinggal di kota mana yah 

2 thoughts on “Pengalaman tinggal di 5 kota di Jerman

  1. Cultural shock yg dialamin cuma itukah gan/sist ? Soalnya secara garis besar kita tau banyak hal yg berbeda antara Jerman dan Indonesia. Bisa di ceritakan lebih tentang cultural shocknya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *